Reaksi-Reaksi Spesifik Pada Nukleotida


Reaksi-Reaksi Spesifik Pada Nukleotida

Reaksi yang terjadi dalam metode analisis kualitatif dapat digolongkan menjadi reaksi spesifik, reaksi sensitif, dan reaksi selektif. Reaksi spesifik adalah reaksi khas yang merupakan reaksi antara bahan tertentu dengan pereaksi spesifik untuk bahan tersebut. Pada laman ini akan dibahas reaksi spesifik pada nukleotida, sebelum memasuki reaksi spesifik pada nukleotida terlebih dahulu mengetahui apa itu nukleotida.
Nukleotida adalah molekul yang tersusun dari gugus basa heterosiklik, gula, dan satu atau lebih gugus fosfat. Basa penyusun nukleotida biasanya adalah berupa purina atau pirimidina sementara gulanya adalah pentosa (ribosa), baik berupa deoksiribosa maupun ribosa . Nukleotida yang merupakan monomer asam nukleat (building block) memiliki banyak fungsi dalam metabolisme selular. Sebagai konstituen asam nukleat, deoxyribonucleic acid (DNA) dan ribonucleic acid (RNA), nukleotida berfungsi sebagai gudang informasi genetik. Struktur protein dan metabolisme biomolekul dan komponen selular lainnya merupakan produk informasi yang sudah terprogram dalam nukleotida. RNA juga terdiri atas nukleotida yang memiliki banyak fungsi. Ribosomal RNA (rRNA) adalah komponen ribosom yang bertanggungjawab pada sintesis protein. Massenger RNA (mRNA) merupakan intermediet yang membawa informasi genetik dari suatu gen ke ribosom. Transfer RNA (tRNA) adalah molekul yang menerjemahkan informasi pada mRNA untuk menentukan asam amino spesifik. Selain gudang genetik, nukleotida juga merupakan bagian dari koenzim, donor gugus fosforil (ATP dan GTP), donor gula (UDP dan GDP-gula) atau donor lipid (CDP-asilgliserol). Bentuk energi pada metabolisme tubuh tergantung pada adanya transfer gugus fosforil.
Nukleotida memiliki tiga karakteristik komponen yaitu basa nitrogen heterosiklik, gula pentosa dan gugus fosfat. Molekul nukleotida yang gugus fosfatnya mengalami hidrolisis dinamakan dengan nukleosida. Basa dan gula pentosa penyusun nukleotida merupakan bentuk senyawa heterosiklik. Struktur nukleotida dan nukleosida dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

 
Basa nitrogen heterosiklik yang menyusun nukleotida yaitu purin dan pirimidin. Ada empat basa nitrogen yang merupakan unit pembentuk DNA yaitu adenin (A), guanin (G), sitosin (C) dan timin (T). Sedangkan pembentuk RNA yaitu adenin (A), guanin(G), sitosin (C) dan urasil (U). Adenin dan guanin merupakan basa nitrogen jenis purin sedangkan sitosin, timin dan urasil adalah derivat pirimidin.
 
Gula pentosa penyusun nukleotida memiliki bentuk furanosa. Dalam nukleotida penomoran atom karbon pada gula pentosa menggunakan tanda prime(‘). Gula pentosa penyusun asam nukleat yaitu 2-deoxy-D-ribosa dan D-ribosa. Basa nitrogen heterosiklik terikat secara kovalen dengan pentosa dalam ikatan N-β-glikosil. Ikatan N-β-glikosil terjadi antara karbon 1’ pada pentosa dengan nitrogen nomor 1 pada pirimidin dan nitrogen nomor 9 pada purin. Gugus fosfat terikat pada karbon 5’ gula pentosa melalui mekanisme esterifikasi sehingga dinamakan ikatan fosfoester.


Permasalahan:

1.       Apa hubungan dari nukleotida dengan kehidupan sehari-hari, tlong jelaskan!
2.       Jelaskan perbedaan purin dan pirimidin!
3.       Adakah dampak bila purin berlebih dari pada pirimidinpada DNA dan sebaliknya?
 


Sumber:

Komentar

  1. Saya akan membantu menjawab permasalahan no 2

    Purin adalah senyawa organik aromatik heterosiklik yang mengandung 4 atom nitrogen. Ini berisi dua cincin karbon, dan terbuat dari cincin pirimidin yang menyatu dengan cincin imidazol. Sedangkan Pirimidin adalah senyawa organik aromatik heterosiklik yang mengandung 2 atom nitrogen. Ini hanya berisi satu cincin karbon.

    Purin membentuk dua dari empat nukleobase dalam DNA dan RNA: adenin dan guanin. Pirimidin membentuk basa lain dalam DNA dan RNA: sitosin, timin (dalam DNA) dan urasil (dalam RNA).

    Purin dapat dibuat secara artifisial melalui sintesis purin Traube. Sedangkan Pirimidin dapat disiapkan di laboratorium dengan menggunakan sintesis organik, seperti melalui reaksi Bigineli.

    BalasHapus
  2. Saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 3 yaitu Adakah dampak bila purin berlebih dari pada pirimidin pada DNA dan sebaliknya?

    Purin dan Pirimidin merupakan komponen utama DNA, RNA, koenzim (NAD, NADP, ATP, UDPG). Inti purindan pirimidin adalah inti dari senyawa komponen molekul nukleotida asam nukleat RNA dan DNA. Contoh Pirimidin: (sitosin, urasil, timin) → dimetabolisme jadi CO2 dan NH3. Sedangkan contoh Purin adalah Adenin dan Guanin. Purin dan Pirimidin merupakan unsur yang nonesensial secara dietetik artinya manusia dapat mensintesis nukleotida secara denovo (dari senyawa intermediet anfibolik), meskipun tidak mengkonsumsi asam nukleat.
    Manusia melakukan biosintesis purin dan pirimidin dalam asam nukleat jaringan tubuh. ATP, NAD+, koenzim A dan lain-lain dari senyawa antara amfibolik. Namun demikian senyawa analog purin dan pirimidin yang disuntikan, termasuk obat-obat yang potensial sebagai preparat anti kanker. Dapat disatukan kedalam DNA. Biosintesis purin serta pirimidin oksi dan deoksiribonukleotida (NTP dan dNTP), merupakan peristiwa yang diatur secara akurat serta dikoordinasikan lewat mekanisme umpan balik yang menjamin produksi senyawa ini dengan kuantitas yang tepat kadang-kadang disesuaikan menurut berbagai kebutuhan fisiologik (misalnya pembelahan sel).

    BalasHapus
  3. Saya akan membantu menjawab pertanyaan no 1 Sebelum berbicara lebih jauh tentang fungsi atau peran Nukleotida di dalam susu balita, ibu harus tahu ternyata Nukleotida ini juga ada di dalam ASI (Air Susu Ibu). Nukleotida merupakan konsentrat dalam ASI.
    Seperti yang ibu ketahui ada standarisasi di dalam susu formula, yaitu kandungannya harus setidaknya mirip dengan ASI. Itulah mengapa Nukleotida ada di dalam susu formula karena pentingnya nutrisi yang satu ini.
    Salah satu fungsi dari Nukleotida adalah untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh (immune system). Survey membuktikan bahwa anak yang lebih banyak mengkonsumsi susu balita yang kaya akan Nukleotida lebih jarang sakit daripada balita yang tidak mendapatkan cukup Nukleotida. Jika ibu merasa balita ibu sering sakit, coba perhatikan susu formula yang ibu pilih.
    Ada beberapa jenis susu balita yang bisa ibu pilih. Salah satunya adalah jenis susu balita rendah gula dan bahkan ada susu yang sama sekali tidak mengandung gula. Terlepas dari itu semua, ibu harus memastikan ada kandungan berupa Nukleotida agar sistem kekebalan tubuh balita ibu semakin kuat sehingga ia tidak mudah sakit.
    Selain itu, fungsi lain dari Nukleotida adalah untuk memperbaiki sistem pencernaan. Sistem pencernaan tubuh balita itu menentukan seberapa efektif nutrisi terserap dan disalurkan ke seluruh tubuh. Jika sistem pencernaan kurang baik karena mungkin ada bakteri jahat yang jumlahnya lebih banyak daripada bakteri baik, maka yang terjadi adalah balita ibu akan sering sakit seperti diare.
    Setidaknya itulah dua fungsi atau peran dari Nukleotida di dalam susu balita. Jadi, jangan salah pilih ya. Bijaklah memilih susu untuk balita ibu. Jangan memikirkan harga. Jangan pula mempertimbangkan merk. Harga dan merk bisa menipu. Kenali dulu kandungan apa saja yang ada di dalam susu sebelum memutuskan untuk memilih salah satu dari banyak sekali susu formula yang ada di pasaran.
    Kandungan Nukleotida harus ada di dalam susu yang ibu pilih. Susu yang mengandung Nukleotida merupakan susu balita terbaik

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Analisis Pembentukan Struktur Sekunder dan Tersier Pada Protein

Penentuan Stereokimia pada Monosakarida